Rabu, 03 Juni 2009

Tukang Bakso Itu......

Sudah baca artikel “Kisah Tukang Bakso yang Inspiratif” di kaunee.com? Waah rugi deh kalau nggak baca, ceritanya inspiratif.

Dikisahkan seorang tukang bakso membagi pos keuangan menjadi 3 bagian. Jika tukang bakso ini menerima bayaran dari orang yang membeli, dia langsung membagi uang itu ke dalam 3 tempat. Ke laci, yang satu ke dompet dan yang berikutnya ke kaleng bekas, semacam kencleng.

Ketika ditanya, mengapa dia melakukan hal itu dan apa maksudnya? Dia menjawab, “1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari untuk keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq /sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena saya ingin menyempurnakan agama yang saya pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar, Maka kami sepakat dengan istri bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini kami harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji.. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan melaksanakan ibadah haji. (matadunia.com)

Sehabis membaca artikel ini, saya menjadi teringat pada kisah sahabat Rasulullah Saw yang bernama Abdurrahman bin ‘Auf ra.. Dia membagi hartanya juga menjadi 3 bagian. Satu bagian untuk keluarganya, satu bagian siap untuk dipinjamkan ke orang lain dan satu bagian lagi dalam bentuk piutang.

Serupa tapi tak sama. Sahabat Abdurrahman bin Auf ra. merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang kaya. Hartanya benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan dunia dan akhirat. Kepentingan dunianya terpenuhi dengan tetap bertanggung jawab kepada keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kepentingan akhiratnya terpenuhi bahwa menolong orang termasuk perbuatan amal shalih yang tidak bisa dianggap ringan.

Sikap ini juga nampak pada abang tukang bakso. Dia begitu piawai mengatur keuangan dirinya. Untuk keluarga ada posnya sendiri, untuk fakir miskin juga ada jatahnya dan untuk niat mulia naik haji juga ada bagiannya. Perpaduan dunia akhirat yang menjadi landasan tukang bakso ini.

Suatu semangat yang luar biasa. Seorang tukang bakso dapat sedemikian rupa mengatur keuangannya. Untuk memperoleh ridha Allah tidak bisa dengan amalan ‘recehan’, amalan ‘asal jadi’. Abang tukang bakso berprinsip dengan amalan yang terbaik, pengorbanan yang maksimal ingin menggapai sejumput ridha illahi.
Abang tukang bakso ini seolah seorang professional yang memiliki rencana jangka panjang yang briliant. Target yang ingin dicapainya juga tidak tanggung-tanggung, target tertinggi.

Bagi mereka yang berpendapatan tinggi, pembagian pos –hingga beberapa pos- bukan merupakan masalah. Tapi bagaimana mereka yang berpenghasilan pas-pasan? Setengah untuk keperluan keluarga dan setengahnya lagi buat beli mobil BMW misalnya, padahal tinggal di rumah kontrakan.

Mungkin untuk mereka yang berpenghasilan pas-pasan, keinginan di atas terlalu mengada-ada. Terlalu berlebihan.

Tapi tidak demikian bagi abang tukang bakso itu. Dia tidak mau dikatakan sebagai orang yang tidak mampu. Menurutnya semua orang bisa dikatakan mampu, yang terpenting dia berniat.

Menurutnya, definisi ‘mampu’ dapat dikategorikan oleh masing-masing orang. Kalau kita mendefinisikan tidak mampu, maka selamanya kita tidak akan mampu. Tapi kalau kita mengkategorikan diri sebagai orang yang mampu, maka insya Allah dengan kekuasaan dan kewenangan-Nya akan membuat kita menjadi mampu.
Kalau semua orang memiliki rasa optimis seperti tukang bakso ini, mungkin tidak ada orang yang mencari pelarian ke minuman keras dan narkoba. Jika semua bermental seperti tukang bakso ini, tidak ada orang yang mudah menyerah. Andaikan semua orang bermental baja, tentu tidak ada orang yang bunuh diri.

Tapi tidak semua orang dapat bermental baja seperti abang tukang bakso ini. Seorang mahasiswa, terpelajar dapat saja bermental ‘tempe’, walau ilmu yang dimilikinya segudang. Seorang pengusaha terkenal dapat saja seolah mendapat jalan buntu dan tidak dapat bergerak ke mana-mana. Tapi tidak bagi tukang bakso itu, dia yakin Allah Maha segalanya. Allah dapat merubah sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.
Harta bagi sebagian orang dapat menjerumuskannya. Barang-barang yang tidak perlu, dibelinya; barang-barang yang tidak dibutuhkan diupayakan untuk dimilikinya. Barang-barang yang berkaitan dengan gengsi saja, dia upayakan untuk dimiliki.

Bagi yang berpenghasilan tinggi, mungkin akan memiliki angan-angan dan rencana yang beraneka ragam. Dari yang penting, ½ penting, agak penting, tidak begitu penting hingga yang tidak penting.
Namun bagi yang berpenghasilan pas-pasan, mungkin yang ada dibenaknya adalah rencana atau cita-cita yang benar-benar penting saja.(arnab)

Mengapa Doa Kita Seperti tidak dikabulkan?
Agama kita mengajarkan kita agar senantiasa berdoa kepada Allah. Allah memiliki segalanya.

Agama kita mengajarkan kita agar senantiasa berdoa kepada Allah. Allah memiliki segalanya. Setiap sesuatu terjadi atas izin dan kehendakNya. Maka kita dianjurkan agar meminta kepada Allah segala sesuatu yang baik, untuk kehidupan kita di dunia ini dan kehidupan kita di akhirat kelak. Hanya orang-orang yang sombong yang tidak mau dan malas berdoa, meminta kepada Allah.

Doa bukanlah bermaksud kita meminta sesuatu dan kemudian duduk memeluk tubuh tanpa melakukan sesuatu apapun. Akan tetapi doa mestilah disertai dengan usaha. Jika kita berdoa untuk dimasukkan ke dalam Syurga, kita mestilah berusaha dengan amalan-amalan soleh dan menjauhkan diri dari perkara-perkara munkar. Jika kita berdoa agar Allah melimpahkan rezeki kepada kita, kita harus bekerja keras untuk itu. Jika kita berdoa agar Allah memberi lulus ujian sekolah, maka kita harus belajar sungguh-sungguh.

Allah s.w.t mendengar segala permintaan kita. Apa saja yang kita minta pasti akan didengarNya. Dan orang-orang Islam apabila berdoa insyaAllah akan dikabulkan oleh Allah, apalagi kalau orang itu beriman dan melakukan banyak amal soleh. Akan tetapi sudah menjadi sunnatullah, bahwa ada doa yang Allah kabulkan dengan cepat, ada doa yang Allah tidak kabulkan dan ada doa yang Allah simpan untuk hari Qiamat nanti atau untuk mengganti kesusahan yang akan mengenai diri kita. Dalam sebuah hadist riwayat imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Tidak ada orang muslim yang berdoa meminta kepada Allah s.w.t. dengan doa, dimana didalamnya tidak ada dosa dan ia tidak memutuskan tali silaturrahmi, kecuali Allah akan memberinya antara tiga perkara: Pertama Allah menangguhkan permintannya untuk yang akan datang; kedua: Allah menyimpannya untuk kesempatan lain, dan; ketiga: Allah mengalihkan Darinya kejelekan dan malapetaka yang mirip dengan permintannya

Kadang-kadang kita bertanya, mengapa Allah mengkabulkan permintaan orang-orang kafir sedangkan kita orang-orang yang beriman, kadang-kadang doa kita seolah-olah tidak dikabulkan oleh Allah?

Ketahuilah bahwa ada dua kemungkinan mengapa Allah mengkabulkan permintaan hambanya.

Pertama karena Dia cinta dan sayang terhadap hamba tersebut. Dan kedua, karena Allah murka terhadap orang tersebut.

Sesungguhnya apabila Allah murka terhadap seseorang, ada kalanya Allah akan menambah rezeki seseorang, meningkatkan derajatnya dan mengkabulkan permintaanya. Orang tersebut lalu akan menjadi lebih lalai dari Allah, akan terus tenggelam dengan kenikmatan dunia dan maksiat. Akhirnya Allah akan mencabut nyawanya dalam keadaan dia lalai. Sehingga dia mati dalam keadaan buruk su'ul khatimah. Inilah yang dikatakan ulama sebagai istidraj.

Firman Allah dalam surah Al-An'am, ayat 44:

"Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa."

Kadang-kadang kita juga bertanya mengapa doa kita tidak dikabulkan oleh Allah s.w.t sedangkan kita banyak mengerjakan ibadah dan taat kepadaNya?

Ada dua kemungkinan. Pertama, Allah s.w.t suka mendengar permintaan dari hamba-hambanya. Apabila Allah suka pada seseorang hamba, maka hamba tersebut diletakkannya dibawah rahmat dan perlindungannya. Allah juga akan menyimpan doa-doa hamba tersebut untuk hamba itu di hari dimana tiada guna harta dan anak. Itulah hari kiamat. Apabila tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan hamba tersebut dari api neraka, maka ketika itu Allah akan menunjukkan kepada hamba tersebut segala doa-doanya dan ketika itu doa-doa tersebut akan dapat menyelamatkannya dari api neraka.

Dalam riwayat Aisyah r.a. berkata:
"Tidak ada seorang muslim yang berdo'a kepada Allah meminta sesuatu kemudian tidak muncul, kecuali Allah menangguhkannya untuk kesempatan lain di dunia, atau Allah menangguhkannya hingga hari qiamat nanti, kecuali ia tergesa-gesa dan putus asa". Lalu Urwah bertanya:"Wahai Ummul Mukminin, bagaimana ia tergesa-gesa dan putus asa?" Aisyah menjawab:" Misalnya ia berdoa, lalu berkata aku sudah berdoa tapi tidak diberi, atau aku telah berdoa tapi tidak dikabulkan"

Begitulah, betapa cinta dan kasih sayang Allah terhadap kita. Bukan karena Allah tidak mau memberi permintaan kita, tetapi Allah akan menyimpankannya untuk kita di hari Kiamat kelak. Itulah doa-doa orang-orang solihin, orang-orang yang taat kepada Allah s.w.t.

Kedua, doa tersebut tidak dikabulkan oleh Allah karena suatu sebab yang ada dalam diri kita. Misalnya kita meminta sesuatu kepada Allah tetapi kita tidak patuh perintahNya. Kita ingin Allah memberi sesuatu kepada kita, tetapi sangat tidak seimbang dengan apa yang kita telah lakukan untuk Allah, untuk Islam, untuk Rasulullah s.a.w?

Sanggupkan kita lakukan seperti Bilal? Yang menahan siksaan kerana keimannya kepada Allah? Sanggupkah kita lakukan seperti Saidina Abu Bakar As-Siddiq? Yang menafkahkan seluruh hartanya untuk Islam? Sanggupkah kita lakukan seperti Imam Nawawi? Yang mengorbankan siang dan malamnya, yang mengorbankan kelazatan hidup di dunia ini, untuk menegakkan ilmu agama Islam? Tidakkan kita malu, meminta dari Tuhan tetapi kita tidak patuh perintah-perintahNya?

Memintalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah. Tetapi dalam waktu yang sama kita juga berusaha bersungguh-sungguh untuk memenuhi perintah-perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Ibrahim bin Adham, seorang wali Allah pernah berkata:

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak menunaikan hak-hak Allah. Kamu kenal Allah tetapi tidak memenuhi hak-hakNya yaitu untuk disembah.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak mengamalkan isi Al-Quran. Kamu senantiasa membaca Al-Quran tapi tidak kamu amalkan isi-isinya.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu tidak mengamalkan sunnah Rasulullah. Kamu selalu bilang cinta kepada Rasulullah tapi kamu meninggalkan sunnahnya.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu patuh kepada syaitan. Kamu mengakui bahwa syetan itu musuh kamu tetapi kamu patuhi dia.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu mencampakkan diri kamu ke jurang kebinasaan. Kamu selalu berdoa supaya terhindar dari api neraka tapi kamu lemparkan dirimu sendiri ke dalamnya.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, kamu ingin memasuki Syurga tapi kamu tidak melakukan amal soleh.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu sedar kamu akan mati tetapi kamu tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu melihat Cacat dan kekurangan orang lain, tetapi cacat dan kekurangan dirimu kamu tidak pernah melihatnya. Kamu sibuk memikirkan kesalahan dan keburukan orang lain sedangkan keburukan dan kesalahan dirimu sendiri tidak pernah kau hiraukan.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu merasakan kenikmatan yang diberikan Allah tetapi kamu tidak bersyukur, bersyukur dengan mematuhi segala perintah Allah.

- Bagaimanakah doa kamu dikabulkan oleh Allah, sedangkan kamu menguburkan jenazah orang lain tapi tidak menginsafi diri kamu sendiri bahwa kelak kamu juga akan dikuburkan.

Marilah kita menjadi orang-orang yang sentiasa melakukan perintah Allah.Marilah kita bertekad tidak mengulangi segala perbuatan buruk kita.

Insya Allah, segala doa kita akan diterima oleh Allah s.w.t
Firman Allah s.w.t dalam Surah Al-Baqarah, ayat ayat 186:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo'a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."


Wallahu a'lam
Disusun oleh Dewan Asatidz
http://www.pesantrenvirtual.com

Rabu, 06 Mei 2009

Akhir-akhir ini disemua media masa, baik koran, majalah, tabloid maupun yang di dunia maya alias berita dari internet banyak sekali menyoroti masalah nasional yang melibatkan seorang pengusaha Nazarudin yang mengalami kematian karena peristiwa pembunuhan terhadapnya, yang di duga oleh penyidik sebagai tersanka tiada lain adalah seoran Ketua KPK yaitu ANTASHARI AZHAR, yang juga melibatkan salah satu wanita yaitu Rani Juliani. Sementara di dunia Internet ataupu dunia maya banyak sekali komentar-komentar yang pro-kontra terhadap seorang Rani Juliani.
Untuk melihat dan membaca komentar dari berbagai pihak silahkan anda KLIK DISINI